NADIKABAR.COM — Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan mengisi kuliah tamu di Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri. Dia memaparkan sejumlah strategi pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Kuliah tamu itu dihadiri KH Muhammad Anwar Iskandar Ketua Umum YBCMP sekaligus Ketua MUI, Walikota Kediri Vinanda Prameswari, Ketua DPRD Kota Kediri Firdaus beserta Kapolres Kediri Kota dan Dandim 0809 Kediri, serta diikuti oleh mahasiswa UNISKA.

Dalam paparannya, Zulhas menegaskan bahwa persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan makan masyarakat, tetapi juga menyangkut kekuatan dan masa depan suatu negara. Karena itu, Indonesia harus mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Menurutnya, salah satu kunci untuk memperkuat ketahanan pangan adalah meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Ia mencontohkan Brasil yang mampu menghasilkan komoditas pangan dengan biaya lebih rendah karena didukung teknologi dan mekanisasi pertanian.

"Kenapa dia (Brasil) satu kilogram cuma Rp 3.800, kita beli Rp 14.000? Karena teknologi, mekanisasi," kata Zulhas, Kamis (10/9/2026).

Ia menjelaskan, mekanisasi memungkinkan pekerjaan pertanian dilakukan dengan lebih efisien. Jika proses pertanian masih mengandalkan banyak tenaga manusia, biaya produksi menjadi lebih tinggi.

Sebaliknya, penggunaan mesin dapat memperluas kapasitas pengelolaan lahan dengan jumlah tenaga kerja yang lebih sedikit.

Selain mekanisasi, Zulhas menyoroti pentingnya pembangunan dan pembenahan irigasi. Menurutnya, ketersediaan air menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas lahan sawah sekaligus memungkinkan peningkatan indeks pertanaman.

Ia menyebut masih terdapat lahan sawah yang belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan dukungan irigasi yang baik, lahan yang sebelumnya hanya ditanami sekali dalam setahun dapat didorong untuk menghasilkan dua kali atau bahkan lebih dalam setahun.

"Padahal sawah itu bisa dua kali. Karena dua kali, ada yang empat kali juga," ujarnya.

Zulhas juga menekankan pentingnya efisiensi dalam penggunaan air pertanian. Pengelolaan air, kata dia, harus dilakukan secara tepat agar tidak banyak yang terbuang dan dapat dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan tanaman.

Tak hanya sektor pertanian, penguatan ketahanan pangan juga harus menyentuh sektor perikanan. Zulkifli mengatakan pemerintah perlu membangun ekosistem yang membuat nelayan semakin berdaya, mulai dari koperasi, fasilitas bahan bakar untuk nelayan melalui SPBN, hingga sarana pengolahan hasil perikanan.

Menurutnya, hasil tangkapan nelayan harus memiliki kepastian pasar dan terserap dengan baik. Dengan demikian, nelayan tidak hanya menjual hasil tangkapan sebagai bahan mentah, tetapi juga dapat memperoleh nilai tambah dari pengolahan.

"Karena itu satu, seluruh kalau ikan ditangkap itu harus dikonsumsi," ujarnya.

Zulkifli mengatakan membangun ekosistem pangan dari hulu hingga hilir bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan kerja sama pemerintah, TNI, Polri, mahasiswa, dan masyarakat untuk memastikan berbagai program ketahanan pangan benar-benar berjalan di lapangan.

Ia juga mengakui masih terdapat sejumlah program pemerintah yang perlu diperbaiki. Menurutnya, program yang belum berjalan optimal harus dievaluasi dan dibenahi, termasuk dari sisi manajemen.

"Ini pekerjaan kita, memang pekerjaan kita," tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Zulhas juga mendorong mahasiswa UNISKA untuk tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi mampu berpikir kritis dan mencari solusi atas berbagai persoalan.

"Kalau kita mau maju memang harus ada critical thinking dan problem solving," pungkasnya.

Bahkan dalam kuliah tamu tersebut, Zulhas juga membagikan 5 buah Tablet kepada 5 mahasiswa yang berani maju dan berinteraksi dengan dirinnya.