Walau terdengar mencengangkan, bisa jadi ada lebih banyak lagi tulang terkubur di bawah sedimen di dasar laut. Peneliti melakukan 32 kali penyelaman antara Februari hingga Maret 2023. Ilmuwan mengidentifikasi salah satu bangkai modern sebagai paus minke atau Balaenoptera acutorostrata, berukuran sekitar 3 meter panjangnya.
Sisa-sisa spesies modern lainnya, paus paruh Andrew atau Mesoplodon bowdoini, tergeletak dekat fosil-fosil dari genus yang sudah punah bernama Pterocetus. Fosil tertua, milik Pterocetus benguelae, berusia 5,3 juta tahun.
"Menemukan genus punah seperti Pterocetus dan spesies yang masih hidup seperti Mesoplodon bowdoini terawetkan di wilayah yang sama, membentang 1.200 kilometer di dasar laut pada kedalaman ekstrem seperti itu sungguh di luar dugaan," kata Zhou yang dikutip NadiKabar dari NadiKabar.
Adapun mengapa begitu banyak bangkai paus paruh di situ, jawabannya mungkin terkait topografi Zona Diamantina yang berbentuk V. Zona tersebut bagaikan corong yang menyalurkan bangkai ke dasar laut, dan sangat sedikitnya pergerakan sedimen di kedalaman tersebut berarti bangkai itu tetap terekspos ke para pemakan bangkai.
Seiring waktu, mineral laut dalam membentuk kerak pada tulang-tulang tersebut dan mengawetkannya sebagai fosil. Temuan tak terduga lainnya di situs tersebut adalah sebagian tengkorak milik spesies yang sebelumnya tidak diketahui, yang oleh ilmuwan dinamai Pterocetus diamantinae.