Menurut Prof Endah, proses ini dikerjakan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan dan aspek keselamatan. Masyarakat melihat arah angin, membuat sekat bakar di bagian yang punya risiko penyebaran api, dan melakukan pembakaran secara bertahap.

"Di sekitar lahan, anggota masyarakat juga bersiaga untuk mengantisipasi kemungkinan api bergerak keluar dari area yang telah ditentukan," kata lulusan Australian National University itu, dikutip dari ITB.

Selain itu, pembakaran dilakukan di lahan yang relatif kecil, umumnya sekitar 2 hektare atau kurang. Lokasi ladang keluarga pun tersebar, sehingga tidak membentuk suatu hamparan besar.

Selain direbahkan, sebagian biomassa juga dikeluarkan dari petak, sehingga api utamanya membakar bahan bakar yang ada di permukaan tanah. Dalam kondisi ini, pembakaran bisa berlangsung selama sekitar dua jam.

Bagi komunitas Dayak Iban, api merupakan bagian dari salah satu satu tahapan dari keseluruhan sistem berladang. Abu dari pembakaran bisa mengembalikan sebagian unsur hara ke tanah dan meningkatkan ph tanah secara terbatas, sehingga lahan bisa dipersiapkan untuk ditanami saat hujan.

Setelah padi dipanen, lahan tidak terus menerus dimanfaatkan. Setelah beberapa tahun, lahan bisa kembali digunakan untuk ditanami.

"Lahan akan memasuki masa bera dan kembali mengalami proses suksesi. Vegetasi dan biomassa perlahan tumbuh kembali, sementara bahan organik terakumulasi dan proses dekomposisi berlangsung untuk memulihkan kesuburan tanah," terang Prof Endah.