Ia menilai, saat melihat sebuah ladang komunitas Dayak Iban, yang tampak sebenarnya merupakan satu bagian dari sistem sosial-ekologis yang berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.
Walau begitu, ia juga menegaskan praktik tersebut tidak serta merta bisa digeneralisasi untuk semua praktik penggunaan api di Indonesia. Terlebih kunjungan lapangan dalam waktu singkat tidaklah cukup untuk menggambarkan semua kompleksitas sistem masyarakat lokal.
Api yang digunakan dalam sistem berladang secara tradisional, dalam skala terbatas, dengan teknik pengendalian tertentu, dan lanskap yang dikelola secara berbeda, pastinya mempunyai karakteristik berbeda dari kebakaran hutan dan lahan yang tidak terkendali.
Meski demikian, ia juga menilai dalam memahami dan mencegah karhutla, perhatian tidak cukup diberikan pada keberadaan api, tetapi juga terhadap bagaimana, mengapa, di mana, dan dalam kondisi apa api digunakan.
Pengalaman Prof Endah di Sungai Utik membantu melihat adanya pendekatan untuk membantu persoalan kebakaran hutan secara lebih utuh dan bagaimana menghargai pengetahuan masyarakat lokal yang telah berlangsung lama.
Menurutnya, praktik komunitas Dayak Iban menjadi pengingat bahwa dalam memahami hutan dan api, artinya juga memahami manusia yang hidup bersamanya. Pengetahuan lokal bisa menjadi salah satu sumber belajar untuk memahami hubungan tim redaksi manusia, api, lahan, dan ekosistem secara lebih komprehensif.
"Di balik api ada padi, benih, pangan, adat, suksesi hutan, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi," kata Prof Endah.