NADIKABAR.COM — Diabetes selama ini kerap dianggap sebagai penyakit yang lebih rentan menyerang orang lanjut usia. Padahal, penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah ini tak jarang juga bisa dialami anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berusia muda.
Kondisi tersebut penting untuk dipahami karena diabetes, khususnya tipe 2, dapat berkembang secara perlahan tanpa menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal. Akibatnya, sebagian orang baru menyadari kondisinya setelah menjalani pemeriksaan kesehatan.
Diabetes merupakan penyakit yang terjadi ketika tubuh tidak menghasilkan cukup insulin atau tidak dapat menggunakan hormon tersebut secara efektif. Insulin berperan membantu glukosa masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi.
Jika proses tersebut terganggu, glukosa dapat menumpuk di dalam darah. Dalam jangka panjang, kadar gula darah yang tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan pada jantung, ginjal, mata, dan saraf.
Lantas, apa saja faktor yang meningkatkan risiko diabetes pada usia muda? Berikut penjelasannya.
1. Memiliki riwayat keluarga diabetes
Faktor keturunan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam mengenali risiko diabetes, terutama diabetes tipe 2.
Jika orang tua atau saudara kandung memiliki diabetes tipe 2, risiko seseorang untuk mengalami kondisi serupa dapat meningkat. Hal ini berkaitan dengan faktor genetik dan kemungkinan adanya kebiasaan hidup yang sama dalam keluarga.
Meski demikian, riwayat keluarga bukan berarti seseorang pasti akan mengalami diabetes. Kebiasaan sehari-hari dan kondisi kesehatan lainnya juga berperan dalam menentukan risiko.
Karena itu, jika memiliki anggota keluarga dengan diabetes, Anda dapat mulai memperhatikan pola makan, aktivitas fisik, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mengenai kebutuhan pemeriksaan gula darah.
2. Berat badan berlebih atau obesitas
Berat badan berlebih dan obesitas merupakan faktor risiko penting untuk diabetes tipe 2, termasuk pada usia muda.
Salah satu alasannya adalah kondisi tersebut dapat berkaitan dengan resistensi insulin, yaitu ketika sel-sel tubuh tidak merespons insulin secara optimal. Akibatnya, tubuh perlu menghasilkan lebih banyak insulin untuk membantu mengendalikan kadar glukosa darah.
Jika kemampuan tubuh menghasilkan insulin tidak lagi mencukupi kebutuhan, kadar gula darah dapat meningkat.
Namun, diabetes tidak hanya terjadi pada orang yang memiliki berat badan berlebih. Seseorang dengan berat badan normal pun tetap bisa mengalami diabetes karena faktor genetik, gangguan autoimun, atau penyebab lainnya.
Oleh sebab itu, berat badan sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya patokan untuk menentukan apakah seseorang berisiko mengalami diabetes.