"Buat saya ini karakter yang bagus banget dan saya nggak boleh asal-asalan memerankannya, ini benar-benar harus bagus jadinya," lanjut Dian.
Untuk mendalami karakter Kinan, Dian turut menggali kembali pengalamannya saat menjadi mahasiswa pada awal 2000-an. Ia mengingat masa ketika semangat reformasi 1998 masih terasa kuat di lingkungan kampus.
Dian mengungkapkan pernah terlibat dalam sejumlah kegiatan bersama mahasiswa lain untuk menyuarakan keresahan terhadap situasi sosial yang mereka hadapi.
"Waktu saya kuliah tuh juga saya sempat tergabung dalam kegiatan-kegiatan bersama teman-teman mahasiswa yang lain untuk ikut menyuarakan keresahan-keresahan kita yang waktu itu kita rasain," jelasnya.
"Dulu saya kuliah tahun 2000, 2001, jadi waktu itu masih hangat-hangatnya habis dari '98. Kakak-kakak kelas '98 itu juga masih jadi kakak kelas senior kita buat angkatan kita 2000," sambungnya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu pijakan Dian untuk memahami cara berpikir dan sikap Kinan sebagai aktivis mahasiswa. Selain bernostalgia, ia juga memperdalam karakter melalui bacaan yang berkaitan dengan kehidupan organisasi dan gerakan mahasiswa.
Dian menuturkan kelompok studi Winatra dalam cerita tersebut memiliki bacaan wajib bagi anggotanya. Ia kemudian mempelajari sejumlah referensi yang diperolehnya dari narasumber, termasuk Lilik HS yang memiliki pengalaman sebagai aktivis.