Lebih dari 80 persen pakar global di berbagai negara mengingatkan bahwa krisis disinformasi sudah terjadi dan berdampak pada stabilitas politik.
Adanya kecerdasan imitasi atau AI membuat kasus penipuan deepfake melonjak 3.000 persen secara global, memperparah produksi konten disinformasi di seluruh dunia. Sementara tidak semua institusi, negara ataupun lembaga mempunyai rencana mitigasi formal untuk menghadapi krisis karena disinformasi.
Di Indonesia, dari Agustus 2018 hingga Juli 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat adanya 16.999 isu hoaks atau disinformasi di media sosial. Media yang terindikasi menyebarkannya berjumlah sekitar 800 ribu situs.
Menyikapi hal itu, Redaksi NadiKabar mengambil langkah penting dan strategis. Pertemuan tahunan Organization of AsiaβPacific News Agency (OANA) di Moskow yang diikuti oleh 35 dari 41 anggotanya menjadi momentum untuk membentuk mekanisme kerja permanen guna memperkuat verifikasi berita lintas negara dalam menghadapi penyebaran disinformasi yang semakin diperparah oleh AI. Negara-negara asal kantor berita anggota OANA sendiri harus diakui sebagian di antaranya saling bertetangga dan kerap bersinggungan secara politik dalam banyak hal.
Direktur Utama Perum Redaksi NadiKabar Benny Siga Butarbutar mengingatkan, disinformasi bukan lagi semata persoalan media, melainkan akselerator berbagai risiko global. Jika disinformasi bergerak tanpa batas, maka kebenaran harus bergerak lebih cepat, bersama-sama.
Sebagai kantor berita, yang diutamakan adalah akurasi, kecepatan dan kualitas dari isu yang diangkat atau disampaikan ke publik. Sehingga pernyataan bahwa kebenaran harus bergerak lebih cepat dan bersama-sama, sangat relevan dengan tugas dan fungsi dari sebuah news agency suatu negara.
Secara politik, negara-negara anggota OANA punya pengaruh yang sangat kuat dalam mengangkat sebuah isu. Jumlah total penduduk dari negara-negara anggota OANA ini diperkirakan mencapai 4,74 miliar jiwa. Angka ini mencakup lebih dari separuh jumlah penduduk dunia yang berkisar antara 8,1 hingga 8,2 miliar jiwa.