"Nah, kalau kita ini standardisasi hidupnya dibuat menjadi sama, sehingga tolak ukurnya tidak menjadi sebuah ukuran yang utama, itu yang pertama. Yang kedua, angka ekonomi kita selalu dihitung berdasarkan angka statistik pendapatan orang, tapi tidak pernah dihitung bahwa satu daerah atau satu orang tinggal di sebuah wilayah perkotaan, rumahnya ngontrak, airnya beli, berasnya beli, memang punya pendapatan tinggi dibandingkan dengan yang tinggal di Kuningan atau Majalengka," ujarnya.

"Ini juga tidak menjadi talok ukur. Tetapi ini adalah tantangan kita semua agar investasi yang kita mencapai puncak yang tertinggi harus memiliki implikasi terhadap ketersediaan dan terisinya lapangan kerja di seluruh Provinsi Jawa Barat," pungkasnya.