NADIKABAR.COM — Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Garut, Jawa Barat, memanfaatkan lahan marjinal untuk ditanami komoditas singkong sebagai bahan baku bioetanol dalam rangka mendukung program ketahanan energi nasional.
"Potensi penanaman ubi kayu atau singkong di Kabupaten Garut diperkirakan seluas 25.000 - 30.000 hektare terutama pada lahan-lahan marjinal yang belum dimanfaatkan secara maksimal," kata Kepala Dispertan Kabupaten Garut, Ardhy Firdian di Garut, Rabu.
Ia menuturkan pemerintah pusat sedang melakukan pengembangan bioetanol dari bahan baku salah satunya singkong dalam rangka menjaga ketahanan energi nasional.
Kabupaten Garut, kata dia, salah satu daerah yang didorong oleh pemerintah pusat untuk menyiapkan lahan yang siap ditanami komoditas singkong dan jagung.
"Kami masih mempersiapkan lokasi-lokasi yang potensial untuk dikembangkan," katanya.
Ia menyebutkan Garut memiliki potensi untuk pengembangan penanaman komoditas singkong dan jagung, bahkan selama ini sebagai daerah pemasok jagung terbesar di Jabar.
Khusus untuk singkong, kata dia, mampu menghasilkan produksi sebanyak 375.923 ton pada tahun 2025 di lahan seluas 15.543 hektare tersebar di seluruh kecamatan.
"Berdasarkan data statistik pertanian tahun 2025, luas tanam ubi kayu mencapai 15.543 hektare dengan produksi mencapai 375.923 ton per tahun," katanya.
Ia menyampaikan upaya pengembangan komoditas singkong saat ini tidak mengganggu lahan yang sudah ada atau produktif, melainkan fokus mengoptimalkan lahan marjinal.
Kabupaten Garut, Jawa Barat.Lahan pangan yang sudah ada, lanjut dia, tetap terjaga dengan baik untuk menjaga program ketahanan pangan nasional.
"Hal ini dilakukan untuk memastikan produksi tidak mengganggu keberadaan jagung atau singkong, tidak mengganggu program ketahanan pangan pemerintah," katanya.