Ia mencontohkan, pendidikan karakter diselipkan dalam keseharian santri menunggu Subuh, antre berwudu, dan disiplin makan di lingkungan asrama. Santri juga belajar belajar bekerja sama lewat kegiatan Ramadan, pentas pertunjukan, klub-klub olahraga hingga bahasa, dan lain-lain.

Adapun pengayaan pengetahuan yang didukung oleh guru-guru turut memastikan para santri tetap dilayani secara akademis. Namun, pengajaran menurutnya tidak lagi berfokus pada bagaimana memberikan pengetahuan pada santri, tetapi seperti karakter santri saat diberi akses pada pengetahuan.

Dengan penguatan budi, badan, dan pengetahuan, Irsyad menilai, santri kemudian dapat menjadi pemikir bebas yang punya kapasitas untuk berpikir tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga terkait isu yang lebih luas.