NADIKABAR.COM — Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian RI (Kementan) bersama NadiKabar terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dalam menyampaikan informasi program pemerintah kepada masyarakat. Salah satunya melalui pelatihan intensif The Classroom by NadiKabar yang digelar pada 23-25 September 2026.
Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan mengenai jurnalistik dan penulisan berita, tetapi juga belajar mengembangkan konten video yang informatif dan menarik di era digital melalui sesi Video Creation. Sesi ini diarahkan untuk mendukung kemampuan peserta dalam menghasilkan video yang komunikatif, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan publikasi digital Ditjen Hortikultura.
Head of Brand Studio NadiKabar Okta Marfianto menjelaskan sesi tersebut membahas bagaimana memaksimalkan unsur audio visual dalam proses pembuatan video.
"Jadi tadi pagi kita sudah melaksanakan classroom bertopik dengan video, gimana cara memaksimalkan audio visual pada proses pembuatan video. Jadi harapanku tuh besar kepada mereka, biar mereka tuh bisa step up terhadap kualitas dari kontennya mereka, mulai dari proses pra-produksi, produksi, dan proses pascaproduksi," ujar Okta, di Wisma Pertanian Cipayung, Bogor, Kamis (24/9/2026).
Okta menjelaskan salah satu kesalahan yang kerap terjadi ketika membuat konten adalah mengambil gambar sebanyak mungkin terlebih dahulu, kemudian baru memikirkan cerita saat proses editing.
Padahal, proses produksi seharusnya diawali dengan perencanaan. Kreator konten perlu menentukan terlebih dahulu video seperti apa yang ingin dibuat, pesan yang hendak disampaikan, serta siapa yang menjadi sasaran audiens.
Menurut Okta, proses pra-produksi menjadi fondasi penting, baik untuk membuat konten media sosial berdurasi singkat maupun video dokumenter. Pola yang digunakan dapat dirancang melalui empat elemen utama, yakni Character, Reason, Solution, dan Goals.
Empat elemen tersebut membantu pembuat konten menentukan arah cerita sebelum proses pengambilan gambar dilakukan. Bahkan, ketika harus melakukan liputan secara spontan, kerangka tersebut dapat menjadi pegangan untuk menentukan pertanyaan kepada narasumber maupun alur cerita.
Dalam proses peliputan, misalnya, pertanyaan dapat dikembangkan dari latar belakang kegiatan, alasan program dilakukan, solusi yang ditawarkan, hingga dampak yang diharapkan bagi masyarakat. Dengan begitu, humas tetap memiliki gambaran mengenai materi yang perlu dicari di lapangan.
"Terus habis itu, goals-nya apa, gitu. Impact-nya apa nanti ke masyarakat?," tanya Okta.
"Nah, itu kan bisa jadi sebuah pertanyaan general yang udah nggak usah dipikirin ketika pun kalian dadakan untuk liputan, udah ada di kepala nih apa aja yang mau ditanyain sama narasumber, apa aja alur cerita yang mau kita buat, gitu. Itu udah ada di kepala gitu, dengan ya empat elemen ini," sambungnya.
Okta berharap peserta dapat meningkatkan kualitas karya mereka setelah mengikuti pembelajaran, terutama karena konten yang dibuat instansi harus bersaing dengan berbagai konten dari platform lain yang sudah berkembang secara visual maupun kreatif.
"Harapan saya besar kepada mereka, semoga konten-konten yang mereka hasilkan di next-nya itu bisa lebih mempunyai value, bisa lebih mempunyai kualitas gambar yang bagus," katanya.
Tak sekadar pra-produksi, sesi ini juga membedah agar produksi hingga pascaproduksi video semakin menarik. Bagi humas instansi pemerintah, kemampuan tersebut menjadi relevan karena informasi mengenai program dan kegiatan pemerintah perlu dikemas sesuai karakter audiens dan platform yang digunakan.
Digital Storytelling untuk Instansi
Selain kemampuan teknis dalam produksi video, peserta The Classroom juga mendapatkan pembekalan mengenai strategi membangun narasi untuk media sosial dalam sesi Strategical Design, Storytelling & Social Media. Sesi ini memberikan pemahaman mengenai strategi pengemasan pesan dan pengembangan narasi demi memperkuat sarana komunikasi publik.
Lead Social Media Analyst and New Program NadiKabar Octavianus Tri Endiarto menjelaskan sebuah konten perlu memiliki hook yang mampu menarik perhatian audiens. Setelah perhatian didapatkan, konten juga perlu mempertahankan minat penonton hingga akhir serta memberikan added value atau nilai tambah.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya melihat dan memberikan like, tetapi juga memahami pesan yang disampaikan serta terdorong untuk berinteraksi dengan konten.
"Jadi orang-orang nggak cuma sekadar konten lewat atau konten misalnya, 'oh, kita ada kegiatan ini', tapi kegiatan itu sebenarnya berdampak atau untuk siapa sih?," jelas Endik.
Endik menambahkan kreator konten perlu mengulik sebuah informasi dari perspektif audiens. Dengan demikian, pesan yang disampaikan tidak berhenti pada informasi mengenai kegiatan, tetapi juga menjelaskan konteks, manfaat, dan pihak yang terdampak.
Selain memahami audiens, peserta juga dibekali sejumlah formula atau rumus untuk membantu proses crafting konten. Formula tersebut dapat digunakan sebagai kerangka awal sebelum dikembangkan melalui berbagai tools dan riset media sosial.
Endik berharap formula yang diberikan dapat membuat peserta lebih mudah menentukan struktur konten, termasuk ketika harus merespons isu atau topik yang sedang banyak dibicarakan masyarakat.
"Oke. Hopefully tadi sempat share berbagai macam rumus-rumus ya. Jadi, ada banyak rumus. Semoga rumus-rumus ini bisa berguna untuk mempermudah pekerjaan mereka ketika mereka nge-crafting sebuah konten," kata Endik.
"Mereka nggak perlu bingung kayak susunannya 'kayak gimana ya?', atau 'ini aku harus ngomong kayak gimana ya?'. Jadi, mereka bisa menggunakan rumus tadi, di-elaborate dengan berbagai macam tools," sambungnya.
Riset juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Menurut Endik, humas dapat melihat apa yang sedang banyak dibicarakan masyarakat untuk menemukan pain point atau persoalan yang menjadi perhatian audiens.
Dari sana, informasi dapat dielaborasi dan disampaikan melalui medsos dengan lebih mudah. Pendekatan ini membuat proses pembuatan konten tidak hanya berangkat dari pertanyaan 'apa yang ingin disampaikan instansi', namun juga 'informasi apa yang sedang dibutuhkan dan berdampak bagi masyarakat'.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementan Freddy Lumban Gaol mengatakan peningkatan kapasitas komunikasi publik menjadi bagian penting untuk memastikan informasi mengenai program pemerintah dapat dipahami masyarakat.
Menurut Freddy, kerja sama Ditjen Hortikultura dengan NadiKabar juga menjadi upaya menyiapkan SDM yang mampu menyusun narasi publikasi sesuai kaidah jurnalistik.
"Informasi publik yang baik tidak hanya sekadar sampai ke pembaca, tetapi juga harus mampu membangun pemahaman dan kepercayaan masyarakat. Kerjasama Direktorat Jenderal Hortikultura dengan Classroom NadiKabar ini menjadi komitmen nyata kami untuk mencetak SDM yang terampil menyusun narasi publikasi sesuai kaidah jurnalistik, sehingga keberhasilan program hortikultura dapat terdiseminasi secara efektif dan berdampak," ujar Freddy.
Sementara itu, Kapoksi Hukum, Layanan Perizinan, Humas dan Informasi Publik Ditjen Hortikultura Kementan Armilawaty Razak mengatakan kegiatan The Classroom by NadiKabar ditujukan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi tim kreatif Ditjen Hortikultura.
Menurutnya, kemampuan tersebut dibutuhkan agar program strategis, termasuk Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP), dan kebijakan Ditjen Hortikultura dapat dikomunikasikan secara lebih efektif.
"Kami dari Ditjen Hortikultura mengadakan kegiatan Classroom berkolaborasi dan bekerja sama dengan NadiKabar selama tiga hari dua malam. Bertujuan untuk memberikan peningkatan kemampuan komunikasi kepada teman-teman atau tim kreatif dari kami, Direktorat Jenderal Hortikultura," ujar Armilawaty.
Armilawaty menjelaskan peningkatan skill komunikasi tersebut diharapkan dapat membantu peserta dalam mempertajam narasi, baik ketika membuat rilis maupun mengembangkan exposure program melalui medsos.
"Sehingga diharapkan program-program tersebut teman-teman bisa memanfaatkan komunikasi, penajaman narasi, baik dalam pembuatan rilis maupun dalam mengembangkan ekspos-ekspos untuk di media sosial, agar dapat tersampaikan dengan efektif, dengan baik kepada seluruh masyarakat, khususnya para petani dan bisa berdampak lebih luas," lanjutnya.
Sebagai informasi, kegiatan ini digelar oleh Ditjen Hortikultura bersama NadiKabar di Wisma Pertanian Cipayung, Bogor. Kegiatan yang berlangsung pada 23-25 September 2026 sebagai upaya meningkatkan kapasitas dan keterampilan komunikasi publik jajaran internal, khususnya dalam penguatan jurnalistik, strategi media sosial, branding, dan produksi konten digital melalui pembelajaran interaktif bersama para praktisi media.