"Tiga produk ini yang kami kembangkan dan manfaatkan sebagai bukti nyata indikasi geografisnya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat," ujar Fajar.
Kunjungan diawali dengan menuju Kampung Gagot, Kabupaten Banjanegara, yang menyuguhkan sarapan khas masyarakat setempat.
Di Kampung Gagot, peserta uji jalur disambut dengan Tari Lengger (tarian penyambutan), sambil mencicipi cemilan seperti Klepon, pisang dan ubi rebus.
Peserta juga mencicipi aneka jenis nasi, ada nasi tiwul, nasi jagung, dan ketupat yang dimasak dengan sekam, ayam petis, buntil, dan urap.
Kemudian, peserta diajak ke sentral pengolahan Carica Dieng ke Usaha Dagang (UD) Podang Mas yang sudah berdiri sejak 1980.
Di lokasi ini peserta mendapat kisah asal usul Carica Dieng, yang dibawa Belanda untuk ditanam di kawasan Dieng.
"Carica ini masih satu famili dengan pepaya. Jika ditanam di atas ketinggian 1.900 mdlp itu jadi caricates, tapi di bawah itu yang tumbuh pepaya," ujar Rumi Wikaningtyas, pemilik generasi kedua UD Podang Mas.
Usai mengunjungi rumah produksi, peserta uji jalur diajak ke kebun carica di lereng Gunung Pakuwaja, Desa Parigesit, Wonosobo.
Di perkebunan, peserta bertemu dengan pemilik kebun Subiyati (47), yang mengenalkan perkebunan miliknya memiliki sistem pertanian tumpang sari. Di sela-sela pohon carica ditanam umbi jakon, dan daun bawang.
"Umbi jakon ini seperti bengkuang, bisa langsung dimakan, walau kami menyebutnya ini umbi, tapi ini buah yang bisa langsung dimakan," katanya.