NADIKABAR.COM — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta mengajak perusahaan dan masyarakat memperkuat pemilahan sampah dari sumber sebagai upaya mengurangi beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH DKI Jakarta Erni Pelita Fitratunnisa mengatakan pengelolaan sampah perlu diubah dari pola angkat, angkut, dan buang menjadi pemilahan sejak dari sumber.
"Mulai kita pilah sampah. Mencoba mengenalkan mana yang organik, mana yang anorganik," kata Erni saat menghadiri kegiatan uji emisi kendaraan operasional dan dinas PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re di Jakarta, Selasa.
Perempuan yang akrab disapa Fitri tersebut mengatakan pemilahan sampah dari sumber diperlukan karena kapasitas TPST Bantar Gebang menghadapi tekanan akibat volume sampah yang terus masuk.
Menurut dia, ketinggian timbunan sampah di Bantar Gebang kini telah mencapai lebih dari 50 meter, sedangkan batas maksimal yang ditetapkan sekitar 50 meter.
Karena itu, kata dia, pengurangan sampah dari sumber perlu menjadi perhatian bersama, termasuk melalui keterlibatan dunia usaha dalam program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).
Selain persoalan sampah, Fitri juga menyoroti pengelolaan air limbah sebagai bagian penting dalam menjaga kualitas lingkungan Jakarta.
Ia mengatakan masih terdapat kegiatan usaha yang belum mengelola air limbah dengan baik sehingga berpotensi mengalirkannya langsung ke saluran kota dan badan air.
"Air limbah ini juga satu pekerjaan rumah besar karena masih banyak teman-teman pelaku usaha yang tidak melakukan pengelolaan air limbahnya dengan baik," ujarnya.
Fitri menyebut berdasarkan pemantauan yang dilakukan, terdapat lebih dari 7.000 kegiatan usaha skala kecil di sekitar salah satu aliran sungai yang perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan limbah.
Ia mencontohkan kegiatan usaha seperti peternakan dan pemotongan unggas berpotensi menghasilkan limbah dan mencemari badan air apabila tidak dikelola dengan baik.
Untuk program penanaman pohon melalui TJSL, Erni juga mengingatkan agar perusahaan tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi memastikan tanaman dapat tumbuh dan memberikan manfaat.
"Kami tidak mau cuma nanam. Saya ingin memastikan tanaman yang ada tanam, tumbuh, dan punya manfaat," katanya.
Lebih lanjut, Fitri mengatakan DLH DKI terus mendorong agar program TJSL perusahaan di bidang lingkungan dilakukan secara berkelanjutan, termasuk melalui pemeliharaan tanaman setelah penanaman.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha dapat memperkuat upaya pengurangan dampak kegiatan operasional terhadap lingkungan di Jakarta.
"Sekecil apapun, kami apresiasi. Mudah-mudahan langkah aksi yang sudah dilakukan bisa diadopsi oleh teman-teman perusahaan lainnya," katanya.