NADIKABAR.COM — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengatakan keterbatasan personel menjadi kendala penyebaran edukasi pemilahan sampah dari sumber di Jakarta.
"Kita kekurangan personel untuk melakukan edukasi. Saat ini, ada relawan-relawan yang membantu untuk melakukan edukasi langsung ke warga," kata Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Purwanti Suryandari dalam percontohan pengelolaan sampah kolaboratif di RW 06 Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin.
Menurut dia, keterbatasan personel menjadi salah satu kendala dalam memberikan edukasi secara langsung kepada warga.
Untuk mengatasi permasalahan itu, DLH DKI menggandeng pihak swasta dan relawan untuk membantu penyediaan fasilitas serta memberikan edukasi kepada masyarakat.
"Makanya, kami kolaborasi dengan pihak swasta untuk membantu pemilahan sampah dan edukasi. Saat ini, ada volunteer-volunteer yang membantu untuk melakukan edukasi langsung ke warga," ucap Purwanti.
Selain personel, kata dia, kendala lainnya, yaitu keterbatasan fasilitas yang tersedia bagi masyarakat.
Dia menyebutkan untuk membantu pemilahan, warga dari kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah akan diberikan ember untuk memisahkan sampah organik.
Sampah tersebut selanjutnya diangkut berdasarkan jadwal yang telah ditentukan.
Sementara itu, masyarakat dari kelompok menengah ke atas tidak mendapatkan fasilitas ember dari pemerintah. Mereka dapat menggunakan tempat sampah masing-masing.
"Sampah yang telah dipilah, kemudian dapat disalurkan melalui titik pengumpulan atau drop point yang disediakan," ujar Purwanti.
Kemudian, DLH DKI juga memberikan edukasi kepada petugas pengangkut sampah agar tidak mencampurkan kembali sampah yang telah dipilah.
Pengangkutan akan dilakukan secara bertahap berdasarkan jenis sampah.
"Kalau misalnya nanti dia tidak mengangkut sesuai dengan jenisnya, tidak akan kita terima. Itu mungkin akan bertahap kita lakukan," tutur Purwanti.
Dia menuturkan penerapan aturan tersebut perlu dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan persoalan baru, salah satunya pembuangan sampah sembarangan.
Dalam sistem pengangkutan, kendaraan, seperti mobil pikap akan memiliki pembagian ruang berdasarkan jenis sampah.
Sementara untuk gerobak sampah, akan disediakan tempat atau tong untuk menampung sampah organik yang telah dipilah warga.
Purwanti mengatakan pola kolaborasi dengan pihak swasta dan relawan akan dikembangkan ke wilayah lain yang memiliki tingkat pemilahan sampah lebih rendah.
Dengan demikian, DLH DKI berharap masyarakat semakin terbiasa mengurangi, memilah, dan mengolah sampah sejak dari sumbernya sehingga volume sampah yang harus diangkut ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dapat ditekan.