NADIKABAR.COM — Dokter spesialis anak dari Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A, Subsp.H.Onk.(K) menyampaikan bahwa efek defisiensi zat besi pada bayi terhadap perkembangan otaknya dapat menetap.

Dalam seminar daring IDAI di Jakarta, Selasa, ia menyampaikan bahwa dampak defisiensi besi terhadap perkembangan otak bayi tidak dapat pulih kembali walaupun intervensi sudah dilakukan untuk mengatasi kekurangan zat besi.

"Misalnya seorang bayi mengalami anemia defisiensi besi, itu kita bisa mengobati. Bisa kita kasih besi, akhirnya besinya normal. Bisa kita kasih kalau memang harus dia mendapatkan karena Hb-nya sangat rendah, itu kita mungkin butuh transfusi, nanti bisa normal," ia menjelaskan.

"Walaupun secara laboratorium parameter laboratoriumnya normal, tetapi dampak yang efek defisiensi besi yang sudah terjadi itu, terutama pada perkembangan otaknya, itu irreversible, artinya dia tidak bisa lagi normal dibandingkan kalau misalnya dia tidak mengalami defisiensi besi," katanya.

Ia menyampaikan bahwa otak berkembang pesat pada masa awal kehidupan dan zat besi dibutuhkan untuk mendukung perkembangan otak, termasuk proses plastisitas dan mielinisasi.

Menurut dia, kebutuhan zat besi pada tahun pertama kehidupan tinggi karena pada masa itu volume otak sedang berkembang.

"Karena nanti volume otak itu akan sangat berkembang pesat pada usia satu tahun pertama," katanya.

Selain dapat berdampak pada perkembangan otak, kekurangan zat besi semasa 1.000 hari pertama kehidupan bisa mempengaruhi tumbuh dan kembang anak.

Dokter Murti mengatakan bahwa kekurangan zat besi berlangsung secara bertahap, dimulai dari penurunan cadangan besi sampai penurunan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah.

Ia menjelaskan bahwa pada tahap awal, kadar feritin yang menggambarkan status cadangan besi dapat menurun, tetapi kadar Hb masih normal. Dalam kondisi yang demikian, anak dapat terlihat sehat dan aktif.

"Pada tahap awal itu adalah hanya feritin. Kemudian kalau ini kita tidak ketahui, kemudian makanannya juga kurang mengandung besi, berlanjut lagi menjadi yang defisiensi," katanya.

Karena gejala awalnya susah dikenali, ia mengatakan, pemeriksaan untuk mendeteksi dini kekurangan zat besi perlu dilakukan, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, guna mencegah defisiensi besi pada bayi.

Ia berharap upaya tersebut dapat dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan terkait lain agar anak-anak dapat terhindar dari defisiensi besi sejak masa awal kehidupan.