NADIKABAR.COM — Banyak orang yang mengabaikan waktu tidur karena beberapa alasan, misalnya urusan pekerjaan atau menonton serial TV. Secara bertahap, begadang menjadi kebiasaan rutin.

Kurang tidur dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan. Namun, apakah kurang tidur bisa mengancam jiwa dan meningkatkan risiko kanker?

Kepala Onkologi Medis, Hematologi, dan BMT Sarvodaya, Sektor-8, Faridabad, Dr Ashish B. Agrawal, mengungkap, tidak ada bukti hubungan sebab-akibat langsung tim redaksi kurang tidur dan kanker. Namun, gangguan tidur berkepanjangan perlu mendapat perhatian lebih.

"Bukti pada manusia saat ini belum cukup kuat untuk menetapkan hubungan sebab-akibat yang sederhana. Yang ditunjukkan oleh penelitian adalah bahwa gangguan tidur dan ritme sirkadian yang berkepanjangan dapat memengaruhi sistem biologis yang terlibat dalam perkembangan kanker," kata dokter onkologi tersebut, dikutip dari laman Hindustan Times.

Artinya, kurang tidur bisa menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan kanker. Meski tidak ada hubungan sebab-akibat secara langsung, kurang tidur kronis bisa memengaruhi proses biologis yang terkait dengan risiko kanker.

Dr Agrawal mengingatkan agar tidak menganggap tidur sebagai waktu yang bisa dikorbankan begitu saja, melainkan perlu menjadi salah satu prioritas. Namun, tidak perlu terlalu khawatir jika sesekali harus begadang untuk menyelesaikan pekerjaan. Ahli onkologi tersebut menjelaskan bahwa satu atau dua malam dengan kualitas tidur yang buruk tidak diperkirakan memengaruhi risiko seseorang terkena kanker.

Lantas, kapan kurang tidur mulai perlu diwaspadai?

Kurang tidur menjadi masalah saat hal tersebut menjadi pola yang terus-menerus dan bukan sesekali. Jadwal tidur yang tidak teratur dan pekerjaan malam hari bisa mengganggu jam internal alami tubuh.

"Masalah sebenarnya adalah kasus kurang tidur kronis disertai dengan pola tidur yang tidak konsisten dan pola kerja malam hari. Tubuh kita diprogram sesuai dengan ritme sirkadian, yang merupakan jam biologis yang mengatur berbagai fungsi penting, termasuk tidur, pelepasan hormon, proses metabolisme, mekanisme pertahanan tubuh, dan pemulihan," kata Dr Agrawal.

Saat kurang mendapatkan tidur berkualitas dalam jangka waktu lama, hal tersebut bisa mengganggu keseimbangan hormon, metabolisme, pertahanan kekebalan tubuh, dan kemampuan tubuh untuk pulih. Sistem-sistem yang terganggu secara bersamaan bisa menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi perkembangan penyakit.

Ia juga menyoroti peran melatonin, hormon yang terkait dengan siklus tidur-bangun.

"Melatonin juga berinteraksi dengan jalur yang terlibat dalam stres oksidatif, kerusakan DNA, dan proliferasi sel. Paparan cahaya berulang di malam hari dapat menekan sinyal melatonin normal," katanya.

Lebih lanjut, Dr Agrawal memperingatkan bahwa kurang tidur kronis dapat menyebabkan peradangan sistemik, yang dapat memengaruhi fungsi sel imun dan regulasi metabolisme.

"Stres oksidatif yang berlebihan dapat merusak protein dan DNA, tetapi kerusakan DNA tidak secara otomatis menyebabkan kanker karena sel memiliki cara untuk memperbaikinya. Namun, kerusakan DNA yang berulang bersamaan dengan kegagalan untuk mengatur proses tersebut dapat menciptakan kondisi yang pada akhirnya akan mengakibatkan karsinogenesis, yaitu transformasi sel normal menjadi sel ganas," tambahnya.