NADIKABAR.COM — Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi, dr. Wijaya Johanes Chendra, mengatakan, osteoporosis perlu diwaspadai khususnya orang dengan orang pada usia di atas 50 tahun karena dapat menyebabkan patah tulang dengan dampak serius.

"Secara anatomi dan klinis, patah tulang akibat osteoporosis paling sering terjadi pada tiga lokasi utama yang rentan yaitu panggul atau paha atas, tulang belakang dan pergelangan tangan," kata dr. Wijaya dalam keterangannya di Tangerang, Minggu.

Fraktur panggul merupakan salah satu komplikasi paling berat karena berkaitan erat dengan penurunan kemandirian, kecacatan jangka panjang, hingga peningkatan risiko kematian pada lansia. Sementara itu, fraktur tulang belakang sering kali tidak terdiagnosis, tetapi dapat menyebabkan kronis, perubahan postur tubuh (kifosis), serta penurunan tinggi badan.

Untuk patah tulang panggul umumnya memerlukan operasi untuk memperbaiki atau mengganti bagian tulang yang patah, dan tindakan dianjurkan dilakukan sedini mungkin setelah kondisi pasien dinilai sudah memungkinkan.

Sementara itu, pada patah tulang pergelangan tangan, operasi dapat dipertimbangkan jika posisi tulang bergeser atau tidak stabil. Sementara itu, patah tulang belakang umumnya dapat ditangani tanpa operasi terlebih dahulu, meskipun tindakan tertentu dapat diperlukan jika nyeri berat menetap atau terdapat gangguan saraf.

"Pencegahan dan penanganan osteoporosis tidak hanya mengandalkan pengobatan, tetapi juga perlu didukung oleh perubahan gaya hidup, termasuk aktivitas fisik yang memberikan pembebanan pada tulang secara aman," ujar dr. Wijaya dari Siloam Hospital TB Simatupang.

Perlu diketahui, Osteoporosis merupakan kondisi ketika kepadatan dan kualitas tulang menurun sehingga tulang menjadi lebih rapuh dan rentan mengalami patah tulang. Penyakit ini sering kali berkembang tanpa gejala yang jelas hingga terjadi patah tulang.

Secara global, diperkirakan lebih dari 500 juta orang hidup dengan osteoporosis, di mana sekitar 1 dari 3 perempuan dan 1 dari 5 laki-laki berusia di atas 50 tahun akan mengalami fraktur fragilitas atau patah tulang akibat kerapuhan tulang.

Di Indonesia, pertambahan jumlah penduduk lanjut usia juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan beban osteoporosis. Angka osteoporosis diproyeksikan meningkat hingga 135 persen pada 2050.

"Dalam momentum hari osteoporosis sedunia yang diperingati setiap 20 Oktober, kami mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan tulang melalui evaluasi faktor risiko, pemeriksaan medis sesuai indikasi, serta konsultasi dengan dokter spesialis," katanya.

Dokter spesialis kedokteran olahraga aktivitas dr. Bernadette Laura, mengatakan, aktivitas fisik yang memberikan beban pada tulang dapat merangsang proses pembentukan dan pembaruan tulang, sehingga membantu menjaga kekuatan dan kepadatan tulang.

Olahraga juga membantu memperkuat otot, menjaga keseimbangan tubuh, dan mengurangi risiko jatuh yang dapat menyebabkan patah tulang. Jenis latihan yang dapat dilakukan antara lain weight-bearing exercise, seperti berjalan dan naik tangga, serta latihan beban.

"Selain itu penting untuk mengombinasikan olahraga fleksibilitas untuk mencegah risiko jatuh. Bagi pasien osteoporosis, latihan juga harus tetap dilakukan, tetapi jenis dan intensitasnya harus disesuaikan dengan kondisi pasien serta dilakukan secara aman dan terstruktur karena risiko patah tulangnya lebih tinggi," katanya.