Destry menyebut tekanan yang terus terjadi terhadap kurs rupiah saat ini lebih disebabkan permasalahan eksternal mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah, pengetatan kebijakan moneter di AS, serta sentimen investor terhadap aset negara berkembang.

"Pelemahan dipengaruhi eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, pengetatan kebijakan moneter AS dan sentimen investor global terhadap aset negara berkembang," paparnya.