Kekhawatiran terhadap PHP2Shell bukan sekadar ancaman di atas kertas. Perusahaan keamanan dan infrastruktur internet Cloudflare mengonfirmasi telah mendeteksi lalu lintas serangan yang menargetkan kedua kerentanan tersebut.
Chief Technology Officer Cloudflare, Dane Knecht, mengatakan pihaknya terus memperbarui perlindungan seiring munculnya metode serangan baru.
"Kami melihat serangan awal mulai bermunculan dan terus memperbarui mitigasi seiring ditemukannya metode serangan baru," ujar Knecht melalui X, sebagaimana dikutip The Hacker News.
Cloudflare juga telah menerapkan perlindungan melalui web application firewall (WAF) untuk membantu memblokir upaya eksploitasi PHP2Shell.
Namun, perlindungan tersebut tidak menggantikan pembaruan keamanan resmi. Pengelola website tetap harus memasang patch PHP untuk menutup kerentanan secara menyeluruh.
Ancaman PHP2Shell turut memicu langkah pengamanan terhadap sejumlah layanan digital pemerintah di berbagai negara.
Reuters melaporkan sejumlah website pemerintah di Eropa dinonaktifkan sementara pada Rabu (21/10/2026) sebagai tindakan pencegahan terhadap potensi serangan siber.
Di Belanda, layanan pemerintah MijnOverheid, sistem identitas digital DigiD, hingga website pusat keamanan siber nasional termasuk yang sempat tidak dapat diakses.
Sementara itu, pemerintah Jerman mengonfirmasi sejumlah website yang dikelola penyedia layanan teknologi informasi federal ITZBund dinonaktifkan untuk mengurangi risiko serangan.
Prancis dan Finlandia juga dilaporkan mengambil langkah pengamanan terhadap sejumlah layanan digital pemerintah.