NADIKABAR.COM — Dua petani perempuan Indonesia, Istiqamah asal Aceh dan Rulyantina asal Banten, masuk daftar 100 Pahlawan Perempuan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) atas kontribusi mereka dalam pengembangan pertanian berkelanjutan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat perdesaan.

Penghargaan tersebut diserahkan Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu dalam rangkaian World Food Forum di Roma, Italia pada Kamis (15/10), bersama 98 perempuan lainnya dari berbagai negara.

"Model pendidikan dan pemberdayaan berbasis komunitas yang menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai tenaga pendukung, melainkan sebagai pengambil keputusan dalam rantai pasok kopi sangatlah krusial," kata Istiqamah dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Jumat.

Istiqamah merupakan sekretaris koperasi kopi di Aceh yang mewakili 980 anggota dengan pengelolaan lahan kopi secara kolektif seluas lebih dari 1.200 hektare.

Melalui koperasi tersebut, ia mengembangkan praktik produksi kopi berkelanjutan berbasis wanatani (agroforestry) yang menggabungkan kegiatan pertanian dengan pelestarian lingkungan serta memperkuat keterlibatan perempuan dalam rantai pasok kopi.

Menurut Istiqamah, petani perempuan membutuhkan akses yang lebih luas terhadap pelatihan, teknologi, pembiayaan, pasar, dan perlindungan sosial.

Pengakuan terhadap peran perempuan dalam kelembagaan pertanian juga dinilai olehnya diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Sementara itu, Rulyantina dari Banten memperoleh pengakuan FAO melalui inovasi pengolahan talas beneng menjadi berbagai produk bernilai tambah dengan pendekatan minim limbah (zero waste).

Inovasinya dinilai berkontribusi terhadap diversifikasi pangan lokal, pengembangan peluang usaha, serta pemberdayaan perempuan dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Saya ingin membantu perempuan, terutama ibu rumah tangga di lingkungan saya, untuk memperoleh penghasilan sendiri tanpa harus pergi jauh dari rumah untuk bekerja," ujar Rulyantina.