NADIKABAR.COM — Konflik geopolitik yang terjadi di sejumlah belahan dunia sepanjang tahun 2026 kembali menegaskan pentingnya kemandirian Indonesia demi menjaga kesejahteraan masyarakat.

Kemandirian di sektor-sektor vital, seperti pangan dan energi, menjadi sangat krusial ketika negara kaya sumber daya alam mulai membatasi ekspor, sementara negara miskin sumber daya harus membayar mahal untuk memenuhi kebutuhannya.

Sebagai contoh, penutupan Selat Hormuz di Iran —salah satu jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia— berpotensi memicu lonjakan harga barang dan jasa global akibat melambungnya harga minyak dunia.

Di sisi lain, fenomena iklim El Niño turut memperparah kondisi dengan memicu kekeringan ekstrem di beberapa wilayah serta badai hebat di bagian dunia lainnya. Hal ini menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim seharusnya telah dimitigasi sejak jauh hari.

Menanggapi dinamika tersebut, langkah strategis Pemerintah Indonesia untuk menjaga kedaulatan dan kemandirian nasional merupakan keputusan yang tepat. Langkah ini tidak hanya menjamin kesejahteraan rakyat, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.

Komitmen ini diwujudkan melalui berbagai program prioritas di sektor pangan, energi, pendidikan, hingga kesehatan.

​Salah satu prioritas utama yang terus digaungkan oleh Presiden Prabowo Subianto adalah keberhasilan swasembada pangan.

​"Setiap negara dan perekonomian pasti diukur dari hal paling mendasar: apakah bangsa itu mampu memberi makan bagi rakyatnya. Untuk apa kita merdeka jika tidak bisa menyediakan kebutuhan paling mendasar dari sebuah peradaban, yaitu pangan," tegas Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna pada 20 Juli lalu.

Menjelang dua tahun kepemimpinannya bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sejak dilantik pada 20 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia berhasil mencapai target swasembada pangan pada 2025. Pencapaian ini diraih lebih cepat dari target empat tahun yang ditetapkan sebelumnya.

Keberhasilan tersebut tercermin dari sejumlah indikator utama di sektor pertanian. Produksi beras nasional tahun 2025 mencapai 34,71 juta ton, atau meningkat 4,09 juta ton (13,36 persen) dibandingkan tahun 2024. Kenaikan produksi ini menghasilkan surplus beras sebesar 3,52 juta ton, sehingga Indonesia sama sekali tidak melakukan impor beras konsumsi sepanjang 2025.

Untuk tahun 2026, pemerintah memproyeksikan produksi beras nasional mencapai 34,77 juta ton—berada di atas perkiraan kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton.

​Tak hanya beras, Badan Pangan Nasional (Bapanas) memproyeksikan produksi tujuh komoditas pangan utama lainnya juga melampaui kebutuhan nasional. Dengan demikian, delapan komoditas yang telah mencapai swasembada meliputi beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.