NADIKABAR.COM — Bandara Dubai menelan pil pahit akibat konflik Timur Tengah yang berkepanjangan. Belajar dari pengalaman, Dubai mau membangun fasilitas bandara di bawah tanah.

Dubai sedang menyusun rencana untuk menempatkan sebagian fasilitas bandara barunya di bawah tanah. Alasannya untuk menghindari kelumpuhan operasional jika muncul serangan di masa depan.

Paul Griffiths, CEO Bandara Dubai mengatakan bahwa infrastruktur penting seperti tangki bahan bakar dapat ditempatkan di bawah tanah di lokasi tersebut, sementara area lainnya mungkin memerlukan penguatan tambahan.

"Bagian-bagian tertentu dari infrastruktur mungkin perlu diperkuat untuk menghadapi kemungkinan aktivitas di masa depan, agar lebih tahan terhadap serangan," ujarnya seperti dikutip dari Financial Times Selasa (15/9/2026).

Ini adalah soal perbandingan tim redaksi kemungkinan serangan dengan dampaknya, serta penilaian risiko yang tepat."

Ia menegaskan bahwa proyek pembangunan bandara senilai miliaran dolar dan kapasitas 250 juta penumpang per tahun, tidak akan dikurangi skalanya akibat perang tersebut.

"Percakapan paling singkat yang pernah saya lakukan dengan ketua dewan direksi, Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum, adalah mengenai apakah hal ini mengubah strategi jangka panjang kami. Jawabannya adalah tidak," katanya.

Tangki bahan bakar di bandara utama Dubai sebelumnya berada di permukaan tanah dan sempat terkena serangan pada puncak perang tim redaksi Iran melawan AS dan Israel, sehingga memaksa bandara menghentikan operasionalnya. Namun, Griffiths menyatakan bahwa penerbangan dapat dilanjutkan kembali dalam waktu satu jam setelah insiden tersebut dan menegaskan bahwa operasional tetap aman sepanjang waktu.

Bandara Dubai, yang dibuka pada tahun 1960, sempat menjadi bandara internasional tersibuk dunia, namun kini mulai terlempar dari daftar lima besar seiring dengan konflik tim redaksi Iran, AS, dan Israel.

Jumlah penumpang di Dubai turun sepertiganya pada paruh pertama tahun ini, namun Griffiths mengatakan angka tersebut kini mulai pulih. Optimis, ia memperkirakan bandara ini akan kembali merebut gelar sebagai bandara internasional terbesar di dunia pada tahun depan.

Jumlah orang yang bepergian ke atau melalui bandara tersebut turun dari 7,4 juta pada bulan Februari menjadi 2,5 juta pada bulan Maret dan 3,5 juta pada bulan April, kemudian naik menjadi 4,5 juta pada bulan Mei, 5 juta pada bulan Juni, dan 6,3 juta pada bulan Juli. Bandara ini dimiliki oleh pemerintah dan tidak memublikasikan laporan keuangan.

"Ingatan orang kini cepat berlalu, dan kami telah menstabilkan situasi. Kami memperkirakan pemulihan penuh akan terjadi pada awal tahun depan," kata Griffiths.

Lebih dari 50 maskapai penerbangan telah kembali beroperasi, termasuk Air France, sementara British Airways (BA) akan membuka kembali penerbangan ke Dubai saat musim dingin industri penerbangan dimulai pada bulan Oktober.

Beberapa maskapai penerbangan lambat untuk kembali ke kawasan ini karena pesawat mereka yang telah dialihkan rutenya kini penuh mengangkut penumpang tim redaksi Eropa dan Asia, tambahnya.

"Kami telah mendapatkan kembali 78 persen penumpang kami di DXB. Sisanya yang 22 persen pun tidak akan lama lagi menyusul," tutupnya.