"Semangat UNESCO bukan tentang siapa memiliki apa. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana komunitas tetap menjadi pusat, bagaimana pengetahuan diwariskan kepada generasi berikutnya, dan bagaimana sebuah warisan tetap hidup," katanya.

Pada kesempatan itu, Grup PINKAN Kolintang Indonesia membawakan sejumlah lagu nusantara, sementara seniman balafon menampilkan musik tradisional mereka. Keduanya kemudian berkolaborasi membawakan "La Vie en Rose" sebagai simbol perjumpaan budaya Asia-Afrika.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Hari Batik Nasional pada 2 Oktober, sekaligus memperkenalkan kekayaan ekspresi budaya Indonesia kepada komunitas internasional di UNESCO, demikian isi siaran pers tersebut.