"Tuduhan paham radikal atau mengkafirkan itu tidak berlandaskan bukti. Ini sengaja diangkat sebagai pengalihan isu untuk mengaburkan akar masalah bisnis dan alih fungsi lahan," jelas Mufassir.
Mufassir menegaskan, aksi mereka di lapangan murni untuk mengembalikan khittah pendirian pesantren yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat, bukan lembaga pendidikan komersial berbiaya tinggi yang berjarak dari nilai awal pendiriannya.
"Sejak awal pendiri merintis tempat ini agar anak-anak yang tidak mampu bisa tetap bersekolah. Sekarang dikesankan Darul Istiqamah hanya untuk orang beruang. Kami ingin meluruskan tatanan dakwah dan menjaga amanah para dermawan," pungkasnya.
Diketahui, konflik lahan berkepanjangan itu memicu bentrokan di kawasan SPIDI, Kecamatan Mandai, Selasa (8/9) pagi. Bentrokan melibatkan tim redaksi orang tua siswa SPIDI dengan massa dari Ponpes Darul Istiqamah yang diduga menduduki paksa lahan sekolah.