Menurut Filianingsih, pelaku kejahatan scam saat ini tidak selalu mengandalkan kemampuan meretas sistem (hacker), melainkan memanfaatkan teknik social engineering atau manipulasi psikologis untuk mengelabui korban.

"Ilmu menipu zaman now. Mereka tidak perlu hacker tetapi cukup memahami psikologi. Bapak Ibu pasti mengalami kalau ada WA yang mengatakan, 'ini Anda melakukan belanja Rp 1 juta, Rp juta, Rp 1 juta terus. Benar tidak di e-commerce ini?' Nah kita panik kan, jangan-jangan kita di-hack ini," jelasnya.

"Lalu mereka menanyakan, untuk itu bisa dibantu tolong diberikan pinnya, tolong diberikan nomor tabungan, dan lain-lain, dan kita akan panik. Jadi, penipuan bisa melalui call center tiruan, OTP scam, rekening palsu, link donasi yang fiktif. Nah ini yang diperlukan adalah psikologi tadi," sambungnya.