NADIKABAR.COM — Salah satu orang terkaya di Indonesia, Dato Sri Tahir memiliki impian untuk bisa menginjakkan kaki di Tanah Gaza, Palestina. Hal itu sebagai bentuk dukungannya sekaligus penolakan terhadap tindakan Israel.
Keinginan untuk ke Gaza sudah disampaikan Tahir kepada Duta Besar (Dubes) Palestina untuk Indonesia. Meski sudah banyak memberi bantuan, ia ingin hadir langsung bersama rakyat Gaza begitu perang selesai.
"Saya janji kepada para Dubes Palestina, begitu selesai perang, pertama yang akan saya injakkan kaki saya adalah di Gaza. Saya memang sudah bantu secara logistik, tapi itu bukan tujuan saya. Saya ingin bersama-sama dengan anak-anak yang tidak berdosa, ibu-ibu yang tidak berdosa, bisa duduk bersama di tanah Gaza itu," kata Tahir saat memberi bantuan ke korban gempa Flores di Kantor Bupati Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Selasa (27/10/2026).
Saking seringnya memberi bantuan untuk mendukung rakyat Palestina di Jalur Gaza, Tahir mendapat penghargaan Star of Merit: Order of The State of Palestine dari Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada tahun lalu. Itu merupakan penghargaan tingkat khusus yang diberikan kepada pejabat setingkat menteri, duta besar, utusan gubernur, hingga anggota parlemen negara sahabat yang dinilai berjasa untuk negara Palestina.
"Setiap malam saya kalau melihat internasional, begitu banyak anak-anak yang tidak berdosa, ibu-ibu yang tidak berdosa mengalami kematian, pembantaian. Bagi saya sebagai manusia, saya susah untuk berpura-pura tidak melihat atau berpura-pura tidak mau tahu. Maka itu, mungkin saya adalah orang pertama di Indonesia yang telah diberi gelar Merit of Palestine dari Presiden Palestina Abbas," beber Tahir.
Meski beragama kristen, Tahir tidak segan-segan untuk membantu masyarakat yang beragama Islam. Ia mengaku sejak kecil sudah menyaksikan orang tuanya berjuang hidup tidak mudah dalam mencari nafkah.
"Maka itu saya sebagai yang beragama kristen, saya sudah mengunjungi Timur Tengah lima kali dan memberikan bantuan kepada pengungsi Suriah yang beragama Islam dan terakhir ke Palestina. Sebetulnya menurut logika berpikir orang biasa, ini orang kristen harusnya membantu Israel," imbuhnya.