NADIKABAR.COM — Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan Kementerian Kebudayaan berupaya mengoptimalkan pemanfaatan Dana Indonesia Raya sebagai dana abadi kebudayaan yang mendukung pengembangan seluruh ekosistem budaya secara nasional, termasuk memajukan seni musik Indonesia.
"Artinya lebih inklusif, lebih banyak penerima, tentu tetap dengan kompetisi karena proposalnya lebih dari 15.000 yang masuk dari seluruh Indonesia tahun lalu, hingga terpilih 4.158 penerima manfaat pada tahun ini," kata Fadli dalam siaran langsung Konferensi Pers AMI Awards 2026 melalui kanal YouTube resmi AMI Awards yang disimak di Jakarta, Selasa.
Fadli mengatakan pemerintah telah meningkatkan pagu Dana Indonesia Raya menjadi Rp6 triliun, dari tahun lalu Rp5 triliun.
Dari total dana abadi kebudayaan itu, perkiraan alokasi dana yang akan didistribusikan pada tahun ini antara Rp360 miliar dan Rp500 miliar.
Porsi pembagian itu disalurkan secara inklusif ke berbagai sektor kebudayaan berdasarkan seleksi ketat terhadap belasan ribu proposal yang masuk.
"Lebih inklusif, lebih banyak penerima, tentu tetap dengan kompetisi karena proposalnya (tahun lalu) ada lebih dari 15.000," ujar Fadli Zon pula.
Terkait upaya Yayasan Anugerah Musik Indonesia (AMI) menjalankan skema kemitraan dengan sektor swasta, termasuk dengan komite penghargaan musik Jepang, Music Awards Japan (MAJ), Fadli mengatakan langkah tersebut terbilang strategis.
Fadli menilai perluasan jejaring industri dan akses promosi menjadi faktor penting untuk membantu musisi Indonesia menembus pasar internasional, selain kualitas karya dan kemampuan memanfaatkan platform digital.
“Networking itu sangat menentukan. Ada orang yang berbakat tapi tidak punya network, ya akhirnya tidak mendapatkan kesempatan,” kata Fadli.
Menurut dia, perkembangan media sosial telah membuka peluang yang lebih luas bagi musisi untuk memperkenalkan karya kepada publik internasional. Musisi kini tidak harus sepenuhnya mengandalkan distribusi fisik seperti piringan hitam, kaset, atau CD untuk menjangkau pendengar.
“Sekarang semuanya tadi yang disebut oleh Pak Wamen ada level of playing field-nya mungkin sama. Tapi mungkin yang beda itu biaya produksi, promosi, yang mungkin salah satu yang kita tonjolkan,” ujarnya.
Meski demikian, Fadli menilai keterbukaan platform digital tetap perlu diimbangi dengan dukungan produksi dan promosi agar karya musisi dapat bersaing serta menjangkau pasar yang lebih luas.
Ia meyakini kualitas lagu dan vokal tetap menjadi faktor penting dalam memperbesar peluang karya musik Indonesia diterima pendengar internasional.
“Kalau lagunya itu bagus, suaranya bagus, saya yakin akan ada kemudahan-kemudahan untuk mencapai itu,” kata Fadli.
Adapun dukungan terhadap itu, Kementerian Kebudayaan mengembangkan Manajemen Talenta Nasional (MTN), yang antara lain diarahkan untuk menjaring musisi muda dan membuka akses menuju pengakuan internasional. Pembinaan juga dilakukan melalui program belajar bersama maestro, Gerakan Seniman Masuk Sekolah, dan Gita Bahana.
Fadli mengapresiasi peran Anugerah Musik Indonesia (AMI) sebagai platform rekognisi musik nasional yang terus berupaya mendukung perkembangan para musisi.
"Tadi seperti yang disampaikan, sudah 29 tahun, sejak tahun 1997 berarti ya? Dan merupakan satu anugerah musik yang prestisius, yang juga di dunia mungkin seperti Grammy Awards lah ini mungkin versi Indonesia-nya," kata Menbud.