Peningkatan kapasitas angkut ini memungkinkan para pedagang membeli jeruk dalam jumlah lebih besar, memperluas jangkauan distribusi, sekaligus meningkatkan skala usaha mereka.
Perkembangan serupa juga dirasakan Antoni, dari usaha yang semula hanya mampu memperdagangkan beberapa kuintal jeruk, kini jaringan pemasarannya telah menjangkau berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta, Cirebon, Pangkalpinang, Jakarta, Lombok, hingga Papua. Bahkan, pada periode panen raya, agen yang bekerja sama dengannya mampu mengirimkan dua hingga tiga truk jeruk per hari, dengan kapasitas sekitar 6,5-7 ton per truk. Capaian tersebut mencerminkan peningkatan skala perdagangan sekaligus semakin luasnya akses pasar bagi komoditas jeruk Semboro.
Selain memperoleh akses pembiayaan, klaster yang dikoordinasikan Antoni juga mendapatkan dukungan sarana usaha berupa timbangan, peti buah, dan keranjang bambu. Para anggota turut memperoleh pembinaan melalui program Desa BRILiaN serta kesempatan mengikuti berbagai kegiatan bazar untuk memperkenalkan jeruk Semboro kepada pasar yang lebih luas. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas usaha, tidak hanya dari sisi permodalan, tetapi juga pengelolaan dan pemasaran produk.
Pertumbuhan usaha jeruk Semboro turut menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Meningkatnya aktivitas perdagangan membuka kebutuhan tenaga kerja dalam berbagai tahapan usaha, mulai dari pemetikan, penanganan dan pengemasan buah, hingga pengangkutan serta distribusi.
Pedagang pengumpul umumnya melibatkan satu hingga dua pekerja, sedangkan distributor membutuhkan lebih banyak tenaga kerja seiring meningkatnya volume perdagangan.
"Dulu kami benar-benar hanya pedagang kecil, membawa beberapa kuintal saja. Setelah bersama-sama dengan BRI, kami bisa berkembang dan mengirim ke berbagai wilayah, dari Yogyakarta, Cirebon, Pangkalpinang, Jakarta, Lombok sampai Papua. Jadi yang kami rasakan bukan hanya tambahan modal, tetapi kemampuan usaha kami juga meningkat," kata Antoni.