Total kebutuhan investasi sektor ketenagalistrikan mencapai sekitar US$ 190 miliar dengan US$ 27 miliar dialokasikan untuk transmisi. Indonesia juga merencanakan pembangunan super grid sepanjang sekitar 48.000 kilometer sirkuit dalam satu dekade mendatang untuk menghubungkan sumber energi terbarukan dengan pusat-pusat permintaan listrik.

Namun, Eddy mengingatkan adanya kesenjangan antara kebutuhan dan realisasi investasi transmisi. Kebutuhan investasi mencapai sekitar US$ 2,4 miliar per tahun, sedangkan realisasi sejak 2019 baru sekitar US$ 1,4 miliar per tahun. Pada 2025, realisasi pembangunan transmisi hanya mencapai sekitar seperempat dari target yang direncanakan.

"Persoalannya bukan semata-mata ketersediaan modal, tetapi bagaimana membuat investasi transmisi layak secara komersial. Investor membutuhkan kepastian pendapatan, model bisnis yang jelas, dan regulasi yang memberikan kepastian hukum," tegasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Eddy mendorong penerapan mekanisme pemanfaatan bersama jaringan transmisi atau Joint Transmission Network Utilisation (PBJT), pembentukan entitas khusus transmisi di lingkungan PLN, serta percepatan penyelesaian persoalan lahan dan perizinan. Langkah ini dinilai penting untuk membuka partisipasi Danantara, investor institusi, dan sektor swasta.