Namun, Eddy mengingatkan bahwa skala investasi menjadi salah satu tantangan utama dalam merealisasikan agenda tersebut. Program 100 GWp PLTS diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$100 miliar, dengan sekitar US$70 miliar diharapkan berasal dari pengembang swasta dan IPP, termasuk untuk sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS), sementara sekitar US$30 miliar berasal dari pemerintah.

"Angka investasi ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Dibutuhkan kemitraan yang kuat dengan investor, pengembang, lembaga pembiayaan, mitra pembangunan, serta pelaku industri. Karena itu, kepastian regulasi, kepastian harga, dan kejelasan skema offtake menjadi sangat penting," kata Eddy.

Dia menyampaikan bahwa percepatan transisi energi perlu dibangun di atas lima fondasi. Pertama, keselarasan dengan target pertumbuhan ekonomi. Kedua, penguatan ketahanan energi. Ketiga, keterjangkauan biaya dan kredibilitas skema pembiayaan. Keempat, kesiapan industri domestik. Kelima, integritas iklim melalui pengurangan emisi yang dapat diukur dan ditelusuri.

Menurutnya, kelima aspek tersebut penting agar transisi energi menghasilkan sistem yang investable dan berkelanjutan. Pembiayaan transisi juga perlu dirancang agar tidak menimbulkan tekanan tarif listrik bagi rumah tangga maupun industri, sementara pembiayaan konsesional dapat digunakan untuk menutup viability gap proyek energi terbarukan.