Arus keluar portofolio asing bersih turut memberikan tekanan penurunan terhadap rupiah yang terdepresiasi sebesar 1,22 persen (month to month/mtm) dari Rp17.680 per dolar AS pada 15 September 2026 menjadi Rp17.895 per dolar AS pada 14 Oktober 2026. Sementara sejak awal tahun, nilai tukar rupiah melemah sebesar 8,30 persen (year to date/ytd).
Di sisi lain, Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz memperkirakan BI-Rate naik sebesar 25 basis poin (bps) menjadi ke level 6 persen, seiring ketidakpastian eksternal yang tinggi dan risiko arus keluar modal terkait proposal reklasifikasi MSCI.
"Perkembangan ini menjadi game changer meskipun keputusan final belum diambil, investor dapat mengurangi eksposur lebih awal sehingga tekanan terhadap rupiah perlu diantisipasi," kata Faiz.
Di tengah tingginya imbal hasil global dan kebutuhan pembiayaan defisit transaksi berjalan, menurutnya, daya tarik aset rupiah perlu diperkuat.
Karena itu, tim ekonom Bank Danamon melihat alasan semakin kuat bagi BI untuk bertindak preemptive. Pertimbangannya bukan hanya level rupiah, tetapi juga kecepatan pelemahan, persistensi arus keluar modal, dan risiko terhadap inflasi serta kepercayaan pasar.
"Hingga akhir 2026, kami memperkirakan BI-Rate berpotensi mencapai 6,25 persen, terutama jika tekanan eksternal berlanjut," kata dia.
Faiz menambahkan kenaikan bunga perlu disertai intervensi valas, penguatan insentif lindung nilai, dan imbal hasil instrumen moneter yang kompetitif.
Sedangkan, kebijakan makroprudensial dapat tetap mendukung pembiayaan sektor produktif agar stabilisasi rupiah berjalan dengan dampak yang terukur terhadap pertumbuhan.