NADIKABAR.COM — Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai fokus pemerintah terhadap penguatan efisiensi distribusi, transparansi data, dan kecepatan intervensi pasar menjadi solusi dalam mengantisipasi gejolak harga pangan.
"Tata kelola rantai pasok pangan yang ideal untuk mencegah gejolak harga berfokus pada efisiensi distribusi, transparansi data, dan kecepatan intervensi pasar," kata Esther kepada NadiKabar di Jakarta, Jumat.
Pernyataan tersebut merespons inflasi kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) yang pada Agustus 2026 tercatat 4,06 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dari 2,52 persen pada Juli 2026.
Bank Indonesia (BI) mencatat kenaikan inflasi pangan bergejolak pada Agustus terutama disumbang daging ayam ras, cabai rawit, dan beras. Secara bulanan, kelompok tersebut mengalami inflasi 0,88 persen setelah pada Juli mencatat deflasi 1,68 persen.
Pergerakan harga pangan terkini juga menunjukkan tekanan pada sejumlah komoditas.
Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, dibandingkan Jumat (18/9/2026) pekan lalu, harga rata-rata sejumlah komoditas pada Jumat ini meningkat.
Di antaranya, harga cabai rawit merah naik 3,33 persen menjadi Rp99.250 per kg, cabai merah keriting naik 56,93 persen menjadi Rp105.300 per kg, telur ayam ras naik 6,86 persen menjadi Rp31.950 per kg, daging ayam ras naik 17,89 persen menjadi Rp48.100 per kg, dan beras medium I naik 7,01 persen menjadi Rp17.550 per kg.
Esther mengatakan salah satu langkah yang dapat ditempuh pemerintah adalah memangkas jalur distribusi pangan karena rantai pasok yang panjang dapat meningkatkan biaya hingga tingkat konsumen.