"Semakin panjang rantai pasok maka semakin mahal biaya distribusi. Mata rantai tradisional yang melibatkan 4 hingga 8 titik, dari petani, tengkulak, pengepul, penggilingan, pedagang besar, hingga pengecer, membuat margin harga membengkak," ujarnya.
Selain memperpendek jalur distribusi, ia menilai infrastruktur logistik dan teknologi rantai dingin (cold chain) juga perlu diperkuat, khususnya untuk komoditas hortikultura yang mudah rusak seperti cabai dan bawang.
Menurut Esther, kehilangan pangan akibat penanganan logistik yang kurang baik dapat mengurangi pasokan komoditas yang sampai ke pasar sehingga berpotensi memicu kelangkaan.
Pentingnya perbaikan tersebut juga tercermin dalam Rencana Strategis Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan 2025-2029 yang mencatat susut hasil pascapanen komoditas hortikultura mencapai 20-35 persen
Dokumen itu juga mengidentifikasi keterbatasan fasilitas penyimpanan dan rantai dingin sebagai salah satu kendala distribusi pangan.
Esther selanjutnya menilai digitalisasi dan transparansi data sistem informasi pangan perlu diperkuat agar kondisi produksi, stok, dan distribusi dapat dipantau secara lebih baik.
Dalam mengantisipasi penahanan stok yang tidak wajar, menurut dia, transparansi informasi tersebut perlu dibarengi pengawasan tata niaga oleh Satgas Pangan dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).