NADIKABAR.COM β Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menyampaikan industri manufaktur Indonesia mampu bertahan di tengah berbagai tekanan global dan domestik yang memengaruhi kinerjanya hingga saat ini.
Ia menyampaikan ketahanan tersebut tercermin dari Purchasing Manager Index (PMI) Manufaktur yang mayoritas masih berada di zona ekspansif pada periode pascapandemi, meskipun industri menghadapi berbagai tantangan.
Menurut Esther sebagaimana pernyataannya yang sudah dikonfirmasi di Jakarta, Senin, perlambatan ekonomi negara mitra dagang serta meningkatnya konflik di Timur Tengah turut menekan aktivitas industri manufaktur nasional. Kondisi tersebut diperberat oleh kenaikan biaya input yang memengaruhi keberlangsungan produksi.
βTanpa pandemi saja, dengan berbagai faktor saat ini, industri manufaktur sulit bertahan pada zona ekspansi,β katanya.
Meski demikian, dirinya menilai industri manufaktur nasional tetap mampu melewati berbagai tekanan mulai dari COVID-19 hingga saat ini.
Selain itu, PMI Manufaktur kembali masuk zona ekspansi pada September dengan level 52,4, di tengah ketegangan geopolitik, kenaikan biaya input, serta dinamika domestik.
βSeptember kembali pada zona ekspansi, meski ada ketegangan geopolitik dan naiknya biaya input,β ucapnya.
Indikator perkembangan industri manufaktur dapat dilihat dari berbagai aspek, mulai dari geliat ekspansi pelaku usaha hingga penyerapan tenaga kerja.