Sementara, fasilitas kredit yang belum dicairkan atau undisbursed loan masih berkisar Rp2.548 triliun per Juli 2026. Data ini dinilai menunjukkan bahwa likuiditas tersedia, tetapi permintaan kredit dan ekspansi usaha belum cukup kuat.

"Artinya, bottleneck ada pada transmisi, bukan semata pada suplai dana. Untuk itu, insentif likuiditas BI perlu lebih kuat dikaitkan dengan kredit investasi dan modal kerja ke sektor produktif," kata Rizal.

Dia mencontohkan sejumlah sektor produktif yang potensial di antaranya termasuk manufaktur, pertanian, hilirisasi, UMKM, dan industri padat karya.