Karena itu, ia menilai rantai produksi perlu diperpanjang di dalam negeri agar manfaat ekonomi yang dihasilkan semakin besar sekaligus melibatkan lebih banyak pemasok nasional.
"Tahap berikutnya adalah memperpanjang rantai produksi hingga prekursor, katoda, sel baterai, dan manufaktur akhir yang melibatkan lebih banyak pemasok dalam negeri," ujar Yusuf.
Salah satu bentuk pengembangan hilirisasi dilakukan PT Vale Indonesia Tbk, anggota Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID, melalui proyek di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako.
MIND ID tercatat sebagai pemegang saham terbesar Vale dengan kepemilikan sekitar 34 persen.
Vale mengembangkan fasilitas berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk mengolah bijih limonit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), salah satu bahan antara dalam rantai produksi baterai kendaraan listrik.
Ketiga proyek hilirisasi tersebut memiliki kapasitas produksi gabungan sekitar 240 ribu ton MHP per tahun, sedangkan Vale menyebut program investasi strategisnya di Indonesia mencapai sekitar 7,2 miliar dolar AS atau Rp128,87 triliun.
Di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, proyek HPAL dikembangkan melalui PT Kolaka Nickel Indonesia bersama Zhejiang Huayou Cobalt dan Ford Motor Co., dengan investasi sekitar 4,5 miliar dolar AS atau Rp80,54 triliun.
Proyek tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 120 ribu ton nikel dan 15 ribu ton kobalt yang terkandung dalam MHP setiap tahun.