NADIKABAR.COM — Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai kebijakan menjaga harga energi bersubsidi dan memperkuat cadangan pangan menjadi capaian penting dalam menjaga stabilitas harga selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Menurut dia, kebijakan tersebut berperan dalam meredam tekanan inflasi sekaligus melindungi daya beli masyarakat di tengah dinamika harga energi dan kebutuhan pokok.

"Pemerintah secara konsisten mengarahkan agar harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak dinaikkan, serta menjaga tarif listrik yang diatur dan subsidi LPG tiga kilogram (kg) untuk meredam tekanan inflasi dan menjaga daya beli," kata Esther kepada NadiKabar, di Jakarta, Rabu.

Pemerintah hingga saat ini mempertahankan harga Pertalite sebesar Rp10.000 per liter dan solar bersubsidi Rp6.800 per liter.

Pemerintah juga mempertahankan subsidi elpiji tiga kg untuk menjaga keterjangkauan harga energi bagi masyarakat. Pemerintah mencatat harga di tingkat pengecer sebesar Rp22.000 per tabung.

Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan tarif listrik bagi pelanggan nonsubsidi tidak mengalami kenaikan pada triwulan IV 2026.

Dari sisi perkembangan harga, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan pada September 2026 sebesar 3,28 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama.

Selain menjaga harga energi, Esther menilai penguatan cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog menjadi instrumen penting dalam menjaga ketersediaan pasokan serta stabilitas harga pangan.