Ia mengusulkan penerapan sistem analisis bahaya dan pengendalian titik kritis (HACCP), disertai pemeriksaan bahan baku untuk memastikan produk yang tidak memenuhi persyaratan tidak diteruskan kepada konsumen.

"Pemerintah juga perlu menerapkan standar operasional penyaringan bahan baku yang ketat untuk menolak produk tidak layak sebelum sampai ke tangan konsumen atau program distribusi," ujarnya.

Dari sisi logistik, Esther mendorong perbaikan jaringan transportasi, fasilitas penyimpanan berpendingin, dan pusat distribusi regional untuk mengurangi risiko kerusakan komoditas pangan yang mudah membusuk.

Kemitraan dengan pemasok lokal juga dinilai dapat memperpendek jalur distribusi, sehingga kesegaran produk lebih terjaga dan risiko penurunan mutu selama pengiriman berkurang.

Sementara itu, penguatan kelompok tani dan koperasi juga dinilai diperlukan untuk meningkatkan posisi tawar petani, sekaligus memperpendek rantai perdagangan yang melibatkan banyak perantara.

Lebih lanjut, Esther turut mengusulkan pengelolaan persediaan berdasarkan kebutuhan pemesanan, stok pengaman, dan waktu pemesanan kembali guna mencegah kekurangan pasokan maupun pemborosan biaya.