NADIKABAR.COM — Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) Galau D Muhammad menilai penguatan rantai pasok pangan berbasis komunitas dapat menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga pangan sekaligus memperluas akses pasar bagi petani, peternak dan pelaku usaha lokal.

Ia mengatakan peningkatan permintaan pangan dalam skala besar perlu diimbangi pengembangan jaringan pemasok yang melibatkan produsen setempat agar manfaat ekonomi tersebar lebih luas tanpa mengganggu pasokan bagi rumah tangga.

"Ada banyak pedagang UMKM, peternak yang seharusnya diintegrasikan secara proporsional dalam skala yang mikro," kata Galau saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, penguatan rantai pasok dapat dilakukan melalui model pengadaan yang lebih terdesentralisasi, dengan melibatkan komunitas, pedagang, serta petani dan peternak di sekitar wilayah yang membutuhkan pasokan.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dapat berpartisipasi sesuai kapasitas produksinya, sekaligus memperkuat hubungan antara produsen pangan dan pasar setempat.

Galau mencontohkan kebutuhan bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang meningkat seiring bertambahnya jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menurut dia, skala pengadaan menjadi tantangan bagi produsen kecil apabila mereka harus memenuhi kebutuhan dalam jumlah besar secara mandiri.

"UMKM, peternak kecil mana yang bisa menyuplai untuk 1.000 sampai dengan 1.500 porsi per SPPG?," ujarnya.