NADIKABAR.COM β€” Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menyatakan stabilisasi nilai tukar rupiah tidak harus selalu mengandalkan kenaikan suku bunga karena berbagai instrumen masih dapat dioptimalkan di tengah tingginya yield global dan harga minyak serta ketidakpastian moneter global.

Beberapa instrumen yang dinilai bisa dioptimalkan Bank Indonesia (BI) meliputi instrumen FX swap, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta pengelolaan likuiditas dan arus modal asing.

β€œTidak semua masalah rupiah harus dibayar dengan suku bunga yang lebih mahal bagi seluruh perekonomian. Kalau sumber tekanannya terutama berasal dari global yield, minyak dan tingginya risiko valuta asing, instrumennya juga harus lebih spesifik terhadap sumber masalah tersebut,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Fakhrul menjelaskan BI sebenarnya telah bergerak ke arah tersebut. Pada Agustus 2026, BI mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen sekaligus memperluas insentif pengurangan premi FX swap sebesar 12,5 persen, dari sebelumnya hanya untuk portfolio inflows menjadi juga mencakup pinjaman luar negeri perbankan dan FDI.

β€œBI mulai memisahkan harga uang, harga risiko valuta asing dan ketersediaan likuiditas domestik. Tidak semua persoalan harus diselesaikan melalui BI-Rate,” kata dia.

Untuk Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI September ini, Fakhrul mengekspektasikan BI-Rate tetap bertahan pada level 5,75 persen.

Lebih lanjut, Fakhrul melihat pengalaman India tahun ini sebagai eksperimen penting. Reserve Bank of India (RBI) menggunakan fasilitas swap konsesional untuk menarik pendanaan valuta asing baru dengan memberikan terms hedging yang sangat menarik dan dalam window waktu tertentu.