Namun, ia mengingatkan pengalaman India juga menunjukkan bahwa kebijakan semacam ini dapat menimbulkan konsekuensi ketika respons pasar terlalu besar.

Besarnya inflow dapat meningkatkan likuiditas rupiah sehingga bank sentral akhirnya harus melakukan sterilisasi. Risiko valuta asing juga tidak hilang, tetapi sebagian berpindah dari neraca investor ke neraca bank sentral.

Fasilitas yang terlalu murah atau terlalu lama juga berisiko menarik carry trade dan mengurangi insentif pengembangan pasar hedging swasta.

β€œIndonesia perlu belajar dari arsitektur India, bukan sekadar menyalin kebijakannya. Fasilitas ini harus menjadi jembatan ketika pasar mengalami dislokasi, bukan menggantikan mekanisme pasar secara permanen,” ujar Fakhrul.

Menurut dia, kebijakan tersebut juga hanya tepat apabila persoalan utama Indonesia adalah ketidakpastian eksternal yang bersifat sementara, bukan memburuknya fundamental domestik.

β€œTemporary FX facility bekerja ketika modal sedang menunggu. Ia tidak akan bekerja ketika modal pergi karena suatu alasan fundamental. Kalau yield sudah menarik dan hedging sudah lebih murah tetapi investor tetap tidak datang, masalahnya harus didiagnosis ulang, bukan subsidinya yang terus diperbesar,” kata Fakhrul.