NADIKABAR.COM — Perjalanan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam dua tahun ini diwarnai dengan berbagai tantangan dan dinamika global yang terus berkembang mulai dari gejolak geopolitik, ketidakpastian ekonomi dunia, hingga perubahan lanskap perdagangan internasional.

Hal itu menjadi bagian dari situasi yang dihadapi berbagai negara dan Indonesia dalam menjaga keberlanjutan pembangunan nasional.

International Monetary Fund (IMF) dalam publikasi World Economic Outlook Oktober 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,1% pada 2026, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 3,3% pada 2025.

Sementara itu, inflasi global diperkirakan meningkat menjadi 4,7% pada 2026 sebelum mereda menjadi 4,1% pada 2027. Kondisi tersebut menunjukkan pemulihan ekonomi global masih menghadapi tantangan, terutama ketidakpastian geopolitik dan tekanan harga energi.

Dinamika perekonomian tersebut turut tercermin pada perkembangan sektor manufaktur global. Berdasarkan survei yang disusun S&P Global, PMI manufaktur global meningkat menjadi 53,0 pada September 2026, dari 52,3 pada Agustus 2026, menandakan ekspansi aktivitas manufaktur yang semakin kuat.

Meski demikian, peningkatan permintaan yang melampaui pasokan juga mendorong kenaikan biaya input dan harga jual produk manufaktur. Selain itu, tekanan inflasi juga perlu menjadi perhatian seiring kenaikan harga energi dan berbagai komoditas pangan.

Mencermati perkembangan tersebut, kewaspadaan terhadap risiko eksternal perlu terus diperkuat agar ketahanan perekonomian nasional tetap terjaga.

Perlambatan ekonomi global, volatilitas pasar keuangan, tekanan nilai tukar, serta potensi kenaikan harga energi dan pangan merupakan sejumlah risiko yang perlu diantisipasi melalui penguatan fundamental ekonomi, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, serta upaya menjaga daya beli masyarakat.

Hingga saat ini, Pemerintah Indonesia terus berupaya memperkuat ketahanan ekonomi, menjaga stabilitas, dan mendorong berbagai agenda pembangunan agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan oleh masyarakat.

Di tengah kondisi eskalasi ketidakpastian tersebut, perekonomian Indonesia justru mampu menunjukkan resiliensi di berbagai leading indikator, salah satunya pertumbuhan ekonomi yang terus bertengger di atas 5% dalam 5 kuartal berturut-turut.

Sepanjang 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,11% (yoy), kemudian mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61% (yoy) pada Triwulan I-2026 dan tetap tumbuh sebesar 5,29% (yoy) pada Triwulan II-2026, serta tumbuh sebesar 5,45% (ctc).

Pertumbuhan pada Q1-2026 tersebut juga menjadi pertumbuhan kuartal pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir sejak 2013 silam.