"Yang menjadi PR kita adalah volatile food. Jadi tugas kita, terutama daerah, itu adalah, bagaimana mengendalikan harga pangan," ujar Rizki.

Harga pangan yang terkendali membantu menjaga daya beli masyarakat. Ketika harga cenderung stabil, daya beli lebih terjaga sehingga konsumsi masyarakat tetap dapat bergerak.

Di sinilah inflasi mengambil posisi penting dalam perekonomian. Inflasi yang terlalu tinggi dapat menggerus daya beli, sementara inflasi yang terkendali memberi ruang bagi masyarakat untuk berbelanja sehingga ekonomi tetap bergerak.

"Inflasi itu sebagai pelicin, kayak oli. Kalau kebanyakan oli juga nggak bagus, kekurangan oli juga nggak bagus," kata Rizki.

Senada dengan Rizki, Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip mengatakan inflasi merupakan bagian dari dinamika ekonomi dan mencerminkan peningkatan permintaan.

"Yang paling penting adalah inflasi itu harus ada karena itu refleksi ada kenaikan demand. Cuman inflasinya jangan tinggi-tinggi. Supaya apa? Dampaknya tidak terlalu masif ke masyarakat," ujar Sunarsip dalam kesempatan yang sama.

BI Sulsel mencatat El Nino dan produktivitas pertanian yang belum optimal sebagai risiko yang berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi pada 2026. Ancaman El Nino perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi ketersediaan pasokan yang berakibat pada tekanan harga pangan.

"El Nino ini membahayakan di pertanian, harga beras kemungkinan akan naik kalau tidak ada intervensi pemerintah melalui Bulog," kata Rizki.

Untuk mengurangi dampaknya, BI Sulsel mendorong mitigasi sejak proses produksi agar pasokan tetap terkendali. Upaya mitigasi dilakukan melalui penyediaan sarana pendukung pertanian, seperti embung, pompa air, sumur bor, dan perbaikan irigasi.