Dakwaan penyiksaan tersebut menambah dakwaan perdagangan narkoba yang sebelumnya telah dikenakan terhadap keduanya.

Menurut jadwal yang disetujui hakim pada Kamis (15/10), persidangan Maduro dan Flores akan dimulai pada 14 Juni 2027.

Maduro dan istrinya dituduh memimpin kampanye represi yang didukung negara dan menyiksa puluhan korban, termasuk tiga warga negara AS, selama masa pemerintahannya pada 2013 sampai 2026.

Mereka dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia sebagai bagian dari upaya mempertahankan kekuasaan.

Jaksa dari Kantor Kejaksaan AS di Manhattan menyebut Maduro memerintahkan pejabat Venezuela untuk menyiksa politisi oposisi dan personel militer yang dituduh berkomplot melawannya demi mempertahankan kekuasaannya.

Maduro juga dituduh secara pribadi merekomendasikan metode penyiksaan, menerima laporan mengenai perlakuan terhadap korban tertentu, serta mengancam akan membunuh anak seorang tahanan sebagai bentuk penyiksaan psikologis.

Penjaga keamanan pun dituduh melakukan penyiksaan terhadap tahanan dengan sengatan listrik, pemukulan, dan sesak napas atas perintah Maduro.

Dalam salah satu insiden yang disebut dalam dakwaan, pada 2014 Maduro juga diduga memerintahkan penculikan personel militer untuk memperoleh informasi mengenai kemungkinan adanya pembangkang. Ketika beberapa di antaranya tetap menolak memberikan informasi, ia disebut memerintahkan pejabat untuk "menekan mereka lebih keras."