Berdasarkan grafik kumulatif tahunan, emisi tahun ini hingga Oktober 2026 berada di kisaran 180 juta ton karbon. Angka tersebut jauh di atas rata-rata historis, yakni sekitar 75-80 juta ton karbon per tahun.

Meski begitu, emisi karbon akibat karhutla tahun ini masih belum menyamai tahun-tahun dengan kebakaran besar sebelumnya. Pada 2015, emisi kumulatif tercatat sekitar 380 juta ton karbon, lebih dari dua kali prakiraan emisi Indonesia 2026.

Berdasarkan analisis data mingguan periode 13-19 Oktober, dari total 35,9 juta ton emisi global, Indonesia menduduki posisi teratas sebagai penyumbang emisi di angka 19,6 juta ton karbon dengan peningkatan sebesar 245 persen dari rata-rata historisnya.

Pada periode tersebut, daerah paling parah adalah Kalimantan Tengah dengan total volume emisi karbon harian mencapai 1,32 juta ton karbon, disusul Sumatra Selatan yang mencapai 589 ribu ton karbon, lalu Kalimantan Barat di angka 513 ribu ton karbon.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan masih ada 570,08 hektare lahan yang masih terbakar di enam provinsi prioritas.