Tak hanya memproduksi batik, Sanggar Mbah Guru membuka wisata edukasi belajar membatik hingga kunjungan ke kebun pewarna alam. Ada sekitar 100 jenis tanaman mengandung tanin pewarna alam yang menjadi laboratorium hidup sekaligus kebun percontohan yang terintegrasi dengan eco edu culture tourism.

Batik-batik di Sanggar Mbah Guru diproduksi dengan pewarna alami dari tanaman yang bisa diregenerasi. Sanggar Mbah Guru juga berinovasi mengolah limbah pertanian menjadi pewarna alami batik.

Endang menyebut produk batik tulis yang diciptakan Sanggar Mbah Guru memiliki desain terbatas.

Sanggar Mbah Guru hadir kerena beberapa permasalahan, di antaranya karena pernah punahnya perajin batik di Desa Jugo, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, yang sebenarnya sudah ada sejak lebih dari satu abad lalu.

Kemudian karena banyak ibu di desa terlilit utang rentenir dan maraknya remaja putri dinikahkan pada usia dini tanpa persiapan matang serta tak sedikit yang menjadi korban KDRT atau perceraian karena mental dan ekonomi belum siap.