Ia mengatakan perhitungan tersebut mengasumsikan bahwa cadangan bersama tetap dimiliki produsen atau mitra, sementara negara peserta memperoleh hak untuk menggunakannya berdasarkan kesepakatan.
Biaya pengiriman darurat dan pengisian kembali cadangan dihitung secara terpisah. Skema ini merupakan rekomendasi ERIA yang masih memerlukan pertimbangan dan persetujuan pemerintah terkait.
Sementara Ekonom Energi Senior ERIA Han Phoumin menjelaskan bahwa hak untuk menggunakan cadangan darurat baru merupakan langkah awal. Setiap negara perlu memiliki prosedur yang jelas untuk mengeluarkan cadangan, bahan bakar yang sesuai dengan kebutuhan, dan sarana untuk mengirimkannya ke tempat yang membutuhkan.
"Melalui uji coba sukarela, pemerintah dan operator dapat menguji apakah semua itu berjalan dengan baik sebelum pasokan terganggu," kata dia.
Sementara Senior Policy Fellow ERIA Intan Murnira Ramli mengatakan selain memperkuat kesiapan pasokan energi, ASEAN juga menghadapi tantangan untuk menjaga daya saing industri di tengah tuntutan transisi menuju ekonomi yang lebih hijau dan pemanfaatan teknologi digital.
Kedua agenda ini menjadi penting agar pelaku usaha di kawasan dapat beradaptasi terhadap perubahan global sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan ekonomi baru.
Ia menilai daya saing ASEAN ke depan akan semakin bergantung pada kemampuan kawasan ini memadukan pertumbuhan hijau, transformasi digital, dan integrasi regional.
βPerubahan global membuka peluang bagi kita untuk mengembangkan industri baru, menarik investasi, memperkuat rantai nilai, dan menciptakan pekerjaan yang lebih baik di seluruh kawasan,β kata dia.