Ia menjelaskan dalam mewujudkan produksi yang lebih bersih terlihat dari hasil survei ERIA terhadap perusahaan Jepang yang beroperasi di ASEAN.

Sebanyak 53,3 persen perusahaan yang disurvei telah mengambil langkah untuk mengurangi emisi karbon. Namun, hanya 7,1 persen yang melaporkan telah beralih ke pemasok dengan emisi lebih rendah atau mendorong pemasok mereka untuk mengurangi emisi.

Survei terpisah terhadap perusahaan lokal ASEAN juga menemukan bahwa usaha kecil lebih jarang mengambil langkah serupa dibandingkan perusahaan besar, terutama karena keterbatasan pendanaan dan kemampuan teknis.

Kesenjangan serupa juga terlihat dalam penerapan teknologi digital. Di antara perusahaan Jepang yang disurvei, 70,8 persen menyebut kekurangan tenaga kerja dengan keterampilan digital sebagai hambatan, sementara 64,7 persen menyoroti tingginya biaya penerapan teknologi.

Temuan ini menunjukkan perlunya investasi dalam pengembangan keterampilan dan teknologi, serta perluasan akses pembiayaan agar lebih banyak pelaku usaha, termasuk usaha kecil, dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Untuk menjawab tantangan tersebut, peserta forum turut membahas pentingnya penyelarasan standar dan penguatan konektivitas antarnegara dalam mendukung daya saing industri kawasan.

Salah satu peluang yang dibahas adalah ASEAN Green Economy Framework Agreement (GEFA), yang diharapkan dapat mendorong investasi dan membuka peluang usaha di sektor ekonomi hijau.

Intan menekankan bahwa implementasi agenda bersama akan menjadi faktor penting dalam menentukan kemampuan ASEAN mengembangkan industri baru, memperkuat rantai nilai, dan menciptakan lapangan kerja yang lebih baik.