Setelah meninggalkan Rengasdengklok, rombongan kembali ke Jakarta. Naskah perumusan itu kemudian diketik kembali di Jakarta karena di sana terdapat mesin tik, sebelum rangkaian peristiwa Proklamasi berlanjut.
Kini, keluarga keturunan Djiaw Kie Siong masih merawat rumah tersebut. Rumah ini pun telah berstatus cagar budaya tingkat nasional dengan kepemilikan tetap berada di pihak keluarga.
Sedangkan dalam politik, peran warga Tionghoa Indonesia dinilai terus berkembang seiring menguatnya demokrasi pasca-Reformasi. Keterlibatan yang semakin inklusif tersebut tidak hanya memperluas ruang partisipasi politik, tetapi juga memperkuat kontribusi terhadap stabilitas dan pembangunan Indonesia secara berkelanjutan.
Jika pada masa Orde Baru etnis Tionghoa lebih sering diasosiasikan dengan aktivitas ekonomi, kini keterlibatan mereka dalam politik menunjukkan transformasi yang signifikan.
Menurut pemerhati budaya Tionghoa Johanes Herlijanto, meningkatnya partisipasi politik warga Tionghoa mencerminkan semakin kuatnya integrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keterlibatan tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa warga Tionghoa tidak hanya berkontribusi melalui sektor ekonomi, tetapi juga dalam proses pengambilan kebijakan yang berdampak luas bagi masyarakat.
"Dengan demikian, pertanyaan mengenai loyalitas etnik Tionghoa tak lagi relevan untuk ditanyakan, karena mereka berperan aktif dalam proses pembangunan bangsa Indonesia yang masih terus berlangsung," kata Johanes dalam diskusi bertajuk Bagi Indonesia: Kontribusi Tionghoa dalam Ranah Politik yang diselenggarakan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI), Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina), dan Forum Sinologi Indonesia (FSI) di Jakarta.