Hadir dalam diskusi itu, Dosen Podomoro University sekaligus Asisten Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Dr. Isyak Meirobie, anggota DPR RI Fraksi PKB Dr. Daniel Johan, serta peneliti Pusat Riset Politik BRIN Lidya Christin Sinaga. Lidya menjelaskan partisipasi politik etnis Tionghoa mengalami perkembangan yang sejalan dengan proses demokratisasi Indonesia. Pada awal era Reformasi, sebagian besar politisi Tionghoa masih mengandalkan basis dukungan yang kuat dari komunitas etnisnya sendiri.

Namun, dalam perkembangannya, para politisi Tionghoa mulai membangun komunikasi dan jaringan yang lebih luas dengan berbagai kelompok masyarakat lintas etnis maupun agama. Kondisi tersebut membuat basis konstituen mereka semakin beragam.

"Mereka lambat laun membuka ruang interaksi lebih luas dengan kelompok masyarakat yang berbeda identitas etnik dan agamanya, dan akhirnya memperluas basis konstituen mereka sendiri," ujar Lidya.

Ia menilai perkembangan tersebut turut mematahkan stereotip lama yang selama ini melekat pada warga Tionghoa sebagai kelompok yang hanya berkiprah di sektor ekonomi. Kehadiran lebih banyak tokoh Tionghoa dalam politik menunjukkan bahwa kontribusi mereka kini menjangkau berbagai bidang strategis.

Menurut Lidya, jalur politik juga memberikan kesempatan bagi warga Tionghoa untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat secara luas, sekaligus menyuarakan isu-isu yang berkaitan dengan kelompoknya tanpa harus bersikap eksklusif.

Sekretaris Jenderal IPTI Yen Yen Kuswati menambahkan keterlibatan warga Tionghoa dalam politik merupakan bagian dari kontribusi sebagai warga negara Indonesia. Ia pun mendorong generasi muda Tionghoa untuk terlibat aktif dalam pembangunan bangsa melalui berbagai sektor, termasuk politik dan kebijakan publik.